Legenda dan Sejarah Pekon Sukaraja
Asal-Usul dan Legenda Keluarga Bangsawan
Pada zaman dahulu kala, hiduplah sebuah keluarga bangsawan yang masih berada dalam lingkaran kehidupan kerajaan. Mereka tinggal di wilayah yang kini dikenal sebagai bagian dari kerajaan lama yang belum sepenuhnya terpecahkan asal-usulnya. Keluarga ini hidup damai hingga terjadi bencana besar: letusan dahsyat Gunung Khokata, atau yang kini lebih dikenal sebagai Gunung Krakatau.
Sebelum bencana itu melanda, keluarga tersebut terpaksa berpisah demi keselamatan. Sebagai tanda pengikat dan penanda warisan keluarga, mereka membagi sebuah pusaka keramat menjadi beberapa bagian. Pusaka itu terdiri dari:
- Landian Keris (Gagang)
- Keris Pusaka
- Sarung Keris
- Sigokh, dan bagian-bagian penting lainnya.
Setiap anggota keluarga membawa satu bagian pusaka, menjadi simbol keterikatan darah dan sejarah yang hilang oleh waktu. Menurut cerita para tetuha, salah satu anggota keluarga yang memegang bagian Landian Keris menetap di suatu tempat yang kini dikenal sebagai Pekon Pakkul — sebuah nama yang berarti Tempat Berteduh.
Sementara itu, anggota keluarga lainnya menyebar, mengembara tanpa arah yang pasti. Banyak kisah mereka yang hilang dan tertelan zaman akibat bencana Krakatau. Namun, beberapa jejak keturunan mereka diyakini masih ada dan tersebar di wilayah Kahuripan (kini dikenal sebagai Kuripan) dan Lampung Barat.
Lahirnya Nama Sukaraja
Setelah bencana besar itu, kawasan di sekitar Pakkul perlahan mulai bangkit. Pada masa pemulihan, para pejabat kerajaan kerap diutus mengunjungi pekon ini. Karena seringnya dikunjungi oleh utusan raja, masyarakat setempat mulai menyebut tempat ini sebagai Sukaraja, yang bermakna Desa Kesukaan Raja. Nama itu melekat hingga kini.
Konon, di masa lampau, wilayah Sukaraja merupakan hamparan hutan dan pantai yang belum tertata. Menurut cerita turun-temurun, tempat ini awalnya dikenal sebagai Pangkul Pelabuhan, sebuah pelabuhan sederhana yang sering disinggahi oleh orang-orang terhormat dan bangsawan.
Seiring waktu, kehidupan mulai ramai dan terstruktur. Terbentuklah beberapa pekon (desa adat), antara lain:
1. Pekon Pangkul
2. Pekon Cukuh
3. Pekon Kenali
Setiap pekon dipimpin oleh kepala-kepala suku atau marga terhormat, seperti Kakhiya, Dalom Batin, Temunggung, dan Khadin.
Namun, letusan Gunung Krakatau tahun 1883 kembali memporak-porandakan kawasan ini. Abu panas mencapai ketinggian lebih dari 100 meter di atas permukaan laut, menghancurkan pekon-pekonnya dan menyebabkan banyak korban jiwa. Desa Sukaraja pun mengalami kehancuran total.
Awal Pemerintahan dan Para Pemimpin Sukaraja
Dua tahun setelah bencana, tepatnya pada tahun 1885, wilayah ini mulai membentuk sistem pemerintahan lokal yang kala itu dikenal sebagai Kepala Kampung. Pemimpin pertama yang tercatat dalam sejarah adalah Batin Marga Kesuma, yang menjabat dari tahun 1900 hingga 1933.
Berikut daftar kepala kampung dan kepala desa yang pernah memimpin Sukaraja:
Nama Pemimpin Tahun Menjabat
Batin Marga Kesuma 1900 – 1933
M. Amin 1933 – 1940
M. Ali Hasan 1940 – 1945
Raden Temenggung 1945 – 1950
Abdul Rozak 1979 – 1988
Jafar Siddiq 1988 – 1991
Sangad 1991 – 1992
Hi. Abdul Murod 1992 – 1999
Effendi. M.S 1999 – 2008
Effendi. M.S 2008 – 2015
Sarbini 2015 – 2021
M. Yusuf 2022 – Sekarang
Perubahan istilah dari Kepala Kampung menjadi Kepala Desa terjadi pada masa kepemimpinan Abdul Rozak sekitar tahun 1979, dan sejak saat itu, sistem pemerintahan desa modern mulai diterapkan.
Penutup
Sejarah Sukaraja adalah kisah tentang perjuangan, kehilangan, dan kebangkitan. Dari keluarga bangsawan yang terpecah oleh bencana, hingga berdirinya desa yang kini menjadi tempat tinggal masyarakat yang tangguh dan berakar kuat pada adat serta sejarah.
Cerita ini bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga pengingat bagi generasi sekarang untuk terus menjaga nilai-nilai leluhur dan pusaka budaya yang telah diwariskan.6